Home > Other > ...

Fast Fashion: Tren Murah dengan Harga Lingkungan

Halo, Snippers! đź‘‹

Siapa sih yang nggak suka belanja baju murah dengan model kekinian? Setiap bulan rasanya ada aja tren fashion baru yang bikin kita pengen checkout. Tapi, pernahkah kalian mikir, di balik harga murah dan model yang cepat berganti itu, ada harga lain yang harus dibayar? Bukan di dompet kita, tapi di lingkungan.


Menurut United Nations Environment Programme (UNEP, 2023), industri fashion menyumbang sekitar 10% emisi karbon global dan mengonsumsi 20% air bersih dunia. Bayangin, satu kaos katun aja butuh lebih dari 2.700 liter air untuk diproduksi—cukup buat kebutuhan minum satu orang selama 2,5 tahun!


Data dari Ellen MacArthur Foundation (2024), menunjukkan bahwa setiap detik, setara satu truk penuh pakaian yang dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar. Karena banyak pakaian fast fashion terbuat dari bahan sintetis seperti polyester, butuh ratusan tahun untuk benar-benar terurai.


Nggak heran kalau Direktur Greenpeace Asia Tenggara, Von Hernandez (2024) pernah bilang, "Fast fashion itu bukan hanya masalah gaya hidup, tapi juga masalah keadilan lingkungan. Bumi yang kita tinggali sedang menanggung dampak dari gaya hidup konsumtif."


Dari sisi konsumen, memang terlihat menguntungkan: harga murah, pilihan banyak, update terus. Tapi sebenarnya siapa yang paling diuntungkan?


  • Brand besar dapat profit besar dari penjualan masif.
  • Konsumen mungkin merasa senang karena bisa tampil gaya dengan budget minim.
  • Tapi, lingkungan dan para pekerja di industri tekstil lah yang paling banyak menanggung akibatnya—mulai dari limbah, polusi air, hingga upah rendah.


Fakta lain, survey Fashion Revolution (2023) menunjukkan bahwa 62% generasi Z mulai mempertanyakan etika brand fashion yang mereka beli, termasuk soal limbah, tenaga kerja, dan keberlanjutan. Ini jadi tanda kesadaran baru bahwa gaya tidak harus mengorbankan bumi.


Jadi, Snippers, mungkin saatnya kita mikir dua kali sebelum ikut arus tren cepat. Membeli lebih bijak, memilih yang lebih tahan lama, atau bahkan thrifting bisa jadi pilihan. Pertanyaannya, apakah masih pantas kita tampil stylish kalau ternyata bumi yang jadi korban? 🤔

Ditulis oleh :

Keisya Adelia Ibrahim

Desainer :

Muhammad Nadlifsyam