Home > Other > ...
Luka Yang Tak Pernah Dipilih Perempuan
Hai, SNIPers! Pernahkah kamu merasa harus berpikir dua kali sebelum bepergian keluar rumah? Menimbang pakaian yang dikenakan, jam, serta jalan pulang demi sebuah rasa aman? Tubuh perempuan bukan sekadar tubuh. Ia menyimpan banyak sekali cerita tentang kewaspadaan, batas yang sering dilanggar, dan hak yang kerap diperdebatkan. Di sini, kita tidak mencari siapa yang salah berpakaian atau siapa yang dianggap terlalu berani dalam mengambil langkah.
Tubuh perempuan sering kali tidak benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ia berjalan di dunia yang gemar menatap, menilai, bahkan menghakimi. Di balik langkahnya yang tampak biasa, tersimpan kewaspadaan yang harus ia pelajari sejak dini. Kunci digenggam erat saat malam datang, pesan singkat dikirim sebelum pulang, pakaian dipilih bukan karena nyaman, melainkan karena takut disalahkan. Rasa aman bagi banyak perempuan bukanlah hak yang otomatis hadir. Melainkan sesuatu yang harus dinegosiasikan setiap hari.
Padahal, tubuh perempuan bukanlah sebuah ruang publik. Ia bukan milik siapa pun selain dirinya sendiri. Hak atas keamanan tubuh berarti hak untuk hidup tanpa rasa takut, untuk berkata tidak tanpa konsekuensi, dan untuk dihormati tanpa syarat apa pun.
Dalam banyak kasus kekerasan seksual, perempuan kerap ditempatkan sebagai pihak yang “harus mengerti”. Mengerti bahwa seorang laki-laki “tidak bisa menahan diri”, mengerti bahwa diam dianggap lebih aman daripada melawan, mengerti bahwa melapor justru bisa menghancurkan hidupnya sendiri. Nafsu yang bejat sering kali dimaafkan, dimaklumi, bahkan dibela, sementara perempuan diminta untuk selalu kuat menghadapi trauma yang sama sekali tidak pernah ia pilih.
Ada kenyataan pahit yang jarang ingin diakui. Yaitu, tidak semua orang tua adalah pelindung. Nafsu bejat tidak selalu berwajah asing. Ia kerap bersembunyi di balik senyum ramah dan jabatan yang tampak terhormat. Ketika kebenaran terungkap, perempuan kembali diminta bersabar demi “nama baik” dan “masa depan bersama”. Mereka yang seharusnya menjadi tembok pertama perlindungan justru berubah menjadi sumber ketakutan paling awal.
Perempuan sering diajarkan untuk patuh, bukan untuk dilindungi. Ia bahkan dapat tumbuh dengan keyakinan keliru bahwa semua luka itu adalah kesalahannya sendiri. Yang lebih menyakitkan, lingkungan kerap memilih untuk tidak tahu. Keluarga menutup mata demi menjaga sebuah “nama baik”, seolah keheningan lebih penting daripada keselamatan.
Sudah waktunya kita berhenti meminta perempuan agar selalu lebih berhati-hati dan mulai menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang memilih untuk menyakiti. Sudah waktunya rumah benar-benar menjadi tempat yang aman, dan orang tua kembali menjadi tameng, bukan sumber luka.