Home > Other > ...

Pria Tidak Bercerita

Hai, SNIPers! Pernah gak sih kita menyadari kalau pria di sekitar entah itu pacar, teman, atau bahkan ayah sendiri cenderung berubah menjadi sangat pendiam saat mereka sedang menghadapi masalah besar? Ketika perempuan biasanya membutuhkan ruang untuk menumpahkan segala keluh kesah lewat cerita, pria justru sering kali milih untuk menarik diri, mengunci mulut, dan berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Di media sosial, fenomena ini sering kali memicu kesalahpahaman, di mana pria dianggap cuek, tidak terbuka, atau sengaja menutup diri dari orang-orang terdekatnya. Namun, jika kita melihat lebih dalam, sikap diam ini bukanlah tanda bahwa mereka tidak punya rasa takut atau beban.



Akar masalah dari fenomena ini sebenarnya bermula dari lingkungan masa kecil. Sejak usia dini, anak laki-laki sering kali dididik dengan doktrin bahwa "pria itu harus kuat" dan "pria gaboleh cengeng". Ketika mereka mengekspresikan rasa sedih atau takut, tidak jarang respon yang diterima adalah penghakiman bahwa mereka kurang maskulin atau lemah. Akibatnya, saat tumbuh dewasa, ego mereka secara otomatis membentuk tameng pertahanan diri. Mereka belajar untuk merepresi emosi negatif dan menguburnya dalam-dalam, karena bagi sebagian besar pria, menunjukkan kerentanan adalah hal yang sangat menakutkan.


Pria juga memiliki dorongan untuk melindungi dan mencukupi kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Ketika mereka menghadapi masalah, entah itu soal karier, finansial, atau tekanan mental, pikiran pertama mereka bukanlah mencari validasi emosional, melainkan mencari solusi. Mereka sangat menghindari terlihat rapuh di depan pasangan atau keluarga karena takut hal tersebut justru akan menimbulkan kecemasan baru bagi orang yang mereka sayangi. Bagi mereka, memikul beban sendirian jauh lebih baik daripada melihat orang terdekat ikut merasa pusing.


kalau perempuan cenderung merilis stres melalui komunikasi verbal (talking it out), sedangkan pria membutuhkan waktu untuk masuk ke dalam "ruang aku" untuk mereka sendiri dan berpikir secara logis. Saat pria diam, mereka sebenarnya sedang melakukan proses pemecahan masalah di kepala mereka. Sayangnya, jeda waktu untuk diam ini sering kali disalahartikan oleh lingkungan sekitar sebagai bentuk aksi tutup mulut yang kekanak-kanakan atau tidak komunikatif.


Pada akhirnya, memahami alasan di balik bungkamnya seorang pria bukan berarti kita harus memaklumi jika mereka terus-menerus memendam masalah secara tidak sehat. Mau bagaimanapun, stres yang menumpuk tanpa ruang rilis bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan mental mereka sendiri. Tugas kita sebagai orang terdekat bukanlah memaksa mereka untuk langsung berbicara, melainkan menciptakan sebuah safe space atau ruang aman tanpa penghakiman. Ketika seorang pria tahu bahwa menunjukkan sisi rapuhnya tidak akan mengurangi rasa hormat kita kepadanya, perlahan mereka akan belajar bahwa bercerita dan berbagi beban tidak akan pernah membuat maskulinitas mereka luntur.

Tags :

#SNIPedia #SNIPbisa

Ditulis oleh :

Feby Berliana