Home > Other > ...

Kapan Asap Ini Akan Meracuni Mereka yang Berkuasa?

Hai, SNIPers! Selama 4 bulan kami bertahan di tanah yang mereka bilang "Paru-Paru Dunia". Setiap tahun anak-anak tumbuh dengan udara yang kelabu, dan matahari yang sudah seperti bola tembaga panas.


'Bertahan' bak kata yang luar biasa bagi mereka yang berjuang. Kehidupan kami dipaksa untuk terus berjalan, bekerja untuk pundi-pundi rupiah yang semakin melemah, dan bersekolah dengan kabar regulasi kependidikan yang terus berubah.


Data terbaru Kementerian Kesehatan per 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota wilayah terdampak karhutla. Sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5% dialami anak usia 0-5 tahun.


Entah pakan apa yang disuap pada meja-meja birokrat hingga empati layaknya terinjak pada kubangan.


Tak berhenti pada manusia dan hutan kami, di Ketapang, seekor Orangutan ditemukan lemas di parit kering pada sebuah kebun sawit, kesulitan bernapas, dan sore itu ia mengembuskan napas terakhirnya.


Di belahan lain Borneo, berbagai spesies ditemukan mati terbakar di habitat yang telah berubah padang arang.


Ini adalah bukti dampak dari bencana ekologis yang sangat tragis, yang hingga kini mereka bilang "Belum, masih mampu kita," untuk dikatakan sebagai bencana nasional.


Belum lama untuk hilang dari ingatan, saat Anak Krakatau batuk dan abunya sampai ke sebagian Jakarta dan Bundaran HI. Kepanikan itu merajalela, media masa dipenuhi berita darurat, dan berbagai mitigasi digerakkan dalam hitungan jam. Itu semua karna mengganggu kenyamanan meja-meja birokrat.


Dan kami tidak pernah mendapat perhatian secepat itu, kami hanya menunggu agar kabut itu mengoyak paru-paru mereka.


Padahal kita semua paham bahwa pemerintah ingin bergerak cepat untuk meminimalkan korban, tetapi cara pemerintah selalu sama: terlambat, lalu menjelaskan.

Tags :

#SNIPbisa #SNIPedia

Ditulis oleh :

Aqila Syaza Rayhana