Home > Other > ...
Membaca dan Menulis adalah Bentuk Perlawanan
Sejarah tak pernah sekadar arsip negara, sejarah tak pernah benar-benar terkubur, dan sejarah tak akan pernah bisa terkubur. Maka, menulislah agar sejarah itu tergenggam sebagai pilu dan dosa yang abadi.
Kini, ada banyak cara untuk mengulik dosa di bawah meja birokrat, ada yang terbungkus dalam sindiran, ada yang bersuara lantang, ada pula yang menyajikan dosa itu kedalam syair puitis yang indah, terasa pilu dan keji.
Berikut adalah rekomendasi novel-novel yang mengangkat sejarah pilu di Indonesia.
1. Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari)
Ronggeng Dukuh Paruk mengisahkan Srintil, gadis desa yang diangkat menjadi penari ronggeng dan mendadak populer, serta Rasus, sahabat masa kecilnya yang mencintainya. Kisah cinta dan tradisi desa mereka hancur lebur ketika terseret gejolak politik 1965, yang membuat Srintil mengalami trauma berat akibat salah tuduh dan fitnah politik.
Novel klasik yang sangat menyentuh tentang cinta, kemiskinan, dan dampak kelam sejarah bangsa.
2. Pulang (Leila S. Chudori)
Perjalanan emosional para eksil politik Indonesia di Paris pasca-tragedi 1965 yang merindukan tanah air, dibalut kisah keluarga dan sejarah yang menyayat hati.
3. Namaku Alam (Leila S. Chudori)
Kisah Segara Alam, anak dari seorang korban politik 1965, yang berjuang tumbuh dewasa di tengah stigma dan diskriminasi masyarakat sambil berusaha damai dengan masa lalunya.
4. Laut Bercerita (Leila S. Chudori)
Kisah pilu dari sudut pandang seorang aktivis mahasiswa yang diculik pada masa Orde Baru, serta perjuangan keluarganya dalam menuntut keadilan.
5. Amba (Laksmi Pamuntjak)
Perjalanan epik Amba mencari kekasihnya, Bhisma, seorang dokter yang hilang setelah dibuang ke Pulau Buru akibat tragedi politik 1965.
6. Entrok (Okky Madasari)
Kisah perjuangan seorang ibu dan anak di pedesaan Jawa dalam menghadapi kemiskinan serta kesewenang-wenangan aparat militer pada masa Orde Baru.
7. Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer)
Mahakarya tentang kebangkitan kesadaran nasionalisme Minke, seorang pribumi cerdas yang melawan ketidakadilan kolonial Belanda melalui pena dan pergerakan.
8. Dari Dalam Kubur (Soe Tjen Marching)
Penelusuran sisi gelap sejarah 1965 melalui sudut pandang keluarga korban yang mengalami stigmatisasi, penyiksaan, dan trauma lintas generasi.
9. Notasi (Morra Quatro)
Kisah tentang idealisme, persahabatan, dan perjuangan para mahasiswa pergerakan menjelang jatuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998.
Sejarah yang berlumur darah, tak akan pernah terkubur tanah. Terkutuklah mereka yang membawa diri pada aliran darah rakyat, sungguh darah itu tak akan pernah hilang di setiap sidikmu. Maka, membacalah agar dosa itu tak akan pernah terkubur dan terus hidup di setiap jiwanya.