Home > Other > ...
Kita Menyebutnya Perempuan, Bukan Wanita
Hai, SNIPers! Dalam kehidupan sehari-hari, kata perempuan dan wanita sering dipakai secara bergantian. Padahal sebenarnya punya makna yang berbeda. Perbedaannya bukan hanya soal bahasa, tapi juga tentang cara kita memandang sosok perempuan.
Secara etimologis, kata wanita berasal dari bahasa Sanskerta vanita yang berarti ‘yang diinginkan’. Istilah ini juga sering dikaitkan dengan sosok yang harus tunduk dan mengikuti aturan. Dalam pemaknaan lain yang berkembang di masyarakat Jawa, dikenal pula istilah ‘wani ditoto’ yang diartikan sebagai ‘pihak yang bisa diatur atau tunduk pada aturan’.
Sementara itu, kata perempuan berkaitan dengan kata ‘empu’ dalam bahasa Jawa, yang merujuk pada ‘sosok yang dihormati, memiliki kemampuan, serta kedudukan yang lebih tinggi’. Dari sini, maknanya lebih mengarah pada pribadi yang mandiri, kuat, dan memiliki kendali atas dirinya sendiri. Selain itu, kata ini juga berhubungan dengan kata ‘ampu’ yang berarti ‘menjaga atau menopang’, sehingga semakin menegaskan peran penting dan kekuatan yang dimiliki.
Dalam sejarah Indonesia, penggunaan kata perempuan juga punya makna penting. Pada Kongres Perempuan tahun 1928, istilah yang digunakan adalah perempuan, bukan wanita. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, istilah tersebut dipilih untuk mewakili semangat perjuangan dan kesetaraan.
Setelah kemerdekaan, nama Kongres Perempuan pun berubah menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Soekarno beranggapan bahwa kata wanita lebih halus dipakai dibandingkan perempuan. Sejak saat itu, kata wanita menjadi lebih sering dipakai untuk nama-nama organisasi perempuan, termasuk Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) sebagai organisasi progresif terbesar dalam sejarah Indonesia.
Di era modern sekarang ini, kata perempuan sudah banyak digunakan untuk menamai gerakan serta organisasi, seperti Komnas Perempuan yang fokus pada perlindungan dari kekerasan. Selain itu, ada juga Solidaritas Perempuan yang bergerak dalam advokasi hak di berbagai bidang.
Perempuan bukan sekadar sosok yang mengikuti, melainkan individu yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri. Ia memiliki hak, suara, dan peran yang setara dalam kehidupan.